Kamis, 10 April 2014

Antara Birul Walidain dan Jihad Fie Sabilillah



Berbakti kepada kedua orang tua [birul walidain] merupakan salah satu amal sholih yang mulia. Bahkan, Al Quran banyak menyebutkan keutamaannya. Alloh Ta’ala berfirman:

“Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (Terj QS An Nisa: 36).

Di dalam ayat ini perintah berbakti kepada dua orang tua disandingkan dengan amal yang paling utama yaitu Tauhid. Hal ini menunjukkan sangat utamanya amal sholih ini di sisi Alloh ‘Azza wa Jalla. Bahkan, ada hadits Nabi SAW yang menyebutkan kedudukan birul walidain diatas jihad fi sabilillah,

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rosululloh, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Alloh?’ Beliau menjawab, ‘mendirikan sholat pada waktunya,’ Aku bertanya kembali, ‘Kemudian apa?’ Jawab Beliau, ‘berbakti kepada orang tua,’ lanjut Beliau. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Alloh.’” (HR. Al Bukhori no. 5970).

Ini dikuatkan lagi oleh hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:
“Datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam dia minta izin untuk berjihad, maka Nabi bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” dia menjawab: “Ya.” Nabi bersabda: “Maka berjihadlah kepada keduanya.” (berbaktilah padanya) [HR. Bukhari, Kitab Al Jihad was Siyar Bab Al Jihad bi idzni Abawain, Juz. 10, Hal. 188, No hadits. 2782]

Apakah Jihad bertentangan dengan Birrul Walidain?

Sesungguhnya jihad merupakan amal yang agung dan sangat mulia. Ketika masih dalam status hukum yang fardhu kifayah pelaksanaannya diwajibkan meminta izin kepada orang tua. Ini merupakan pendapat jumhur ulama yang merujuk kepada hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam yang telah disebutkan di atas.

Namun ada hadits lain yang berbunyi:

Demi (Alloh) yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku benar-benar akan tinggalkan keduanya lalu aku akan berangkat berjihad. Rosul bersabda: "Engkau lebih tahu." (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, lihat Fat-hul Bari II/141)

Dalam memadukan pemahaman dua hadits tersebut Ibnu Hajar mengatakan di dalam Fathul Bari: "Hadist yang pertama untuk jihad yang fardlu kifayah sedangkan hadits yang kedua adalah untuk jihad yang fardlu 'ain."

Kapan Jihad Menjadi Fardhu ‘Ain?

Penting diketahui bahwa hukum dasar jihad adalah fardhu kifayah, yang artinya : jika sebagian kaum muslimin sudah melaksanakannya maka kaum muslimin lainnya telah gugur kewajibannya dan jika mereka tidak ikut berjihad, maka tidak berdosa. 

Para ulama telah menetapkan bahwa saat ini, status hukum yang fardhu kifayah berubah menjadi fardhu ‘ain karena 3 kondisi:

Pertama, apabila dua pasukan sudah bertemu dan berhadapan, berdasarkan firman Allah Ta’ala

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (terj QS. al-Anfal: 15)

Kedua, apabila orang-orang kafir sudah memasuki negeri muslim, bagi penduduk negeri wajib berperang melawan dan mengusir mereka. Firman-Nya :

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu.” (terj QS. Al-Taubah: 123)

Asy Syahid [insya Alloh] Syaikh Abdulloh Azzam rahimahulloh berkata jihad telah menjadi fardlu 'ain semenjak jatuhnya Andalusia [Spanyol] ke tangan orang-orang Nasrani, dan hukumnya belum berubah sampai hari ini. Dan jihad akan tetap fardlu 'ain sampai kita mengembalikan seluruh wilayah yang dahulu merupakan wilayah Islam, ke tangan kaum muslimin

Ketiga, Apabila imam (ulil amri) sudah menerintahkan suatu kaum untuk keluar berjihad maka mereka wajib keluar berdasarkan sabda Nabi SAW,

“Maka apabila kalian diperintah untuk keluar berjihad, maka keluarlah!.” (Muttafaq ‘alaih)

Ketika Sudah Fardhu ‘Ain

Imam al-Shon’ani (penyusun Kitab Subulussalam Syarh Bulughul Marom) berkata,

“Mayoritas ulama berpendapat, diharamkan seorang anak berjihad apabila kedua orangtuanya atau salah satunya melarangnya, dengan syarat keduanya adalah muslim. Karena berbakti kepada kedua orang tua adalah fardhu ‘ain sedangkan jihad adalah fardhu kifayah. Maka apabila jihad [sudah] menjadi fardhu ‘ain, tidak perlu minta izin. Jika dikatakan, ‘Berbakti kepada kedua orang tua juga fardhu ain dan jihad juga dalam kondisi fardhu ‘ain, maka keduanya sama.

Apa alasan diutamakannya jihad?’ Aku katakan, ‘Karena kemaslahatan jihad lebih umum/luas, karena dia untuk menjaga dien dan membela kaum muslimin, maka maslahatnya yang lebih lebih luas didahulukan daripada selainnya’.”

Jadi?

Adalah sesuatu yang wajar manakala orangtua kita suatu saat akan mengalami sakit dan sebagai anak berkewajiban untuk menjaga, melindungi dan merawatnya. Memang, tidak berangkat jihad akan dapat melindungi jiwa kedua orang tua. Namun keengganan berartisipasi dan meninggalkan jihad justru akan menyebabkan kehancuran agama. Maka, dalam mengamalkan agama, kita perlu memahami sebuah kaedah bahwa kepentingan agama itu lebih didahulukan daripada kepentingan jiwa. Melindungi agama itu lebih didahulukan daripada melindungi jiwa.

Bahkan, Tidak ada seorang ulama' pun yang mengatakan wajib meminta ijin dalam melaksanakan hal-hal yang fardlu 'ain, walaupun kepada seorang Kholifah sekalipun. Termasuk Tidak ada keharusan untuk ijin kepada kedua orang tua dalam perkara-perkara fardlu 'ain, seperti jihad fi sabilillah. Wallohu A’lam (ekb-jbr)

Jauhilah Sifat-Sifat Munafik!

Sungguh, hal yang tidak bisa kita pungkiri hari ini, di mana kemungkaran, kemaksiatan, dan kemunafikan telah menjamur dan merajalela. Sebagian di antara kita, ada yang enggan dan berat hati lagi menghiraukan nasihat serta petuah yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebagiannya lagi nekat menerobos dan menerjang hukum-hukum Allah Subhânahu wa Ta’âlâ hanya dengan dalih tidak selaras dengan akal dan pikiran manusia.  Lâ haula wala quwwata illâ billâh.

Maka ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwasanya menerobos dan menerjang hukum-hukum Allah dengan dalih tidak selaras dengan akal dan pikiran merupakan tanda-tanda kemunafikan. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum rasul, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (terj QS an-Nisâ, [4]: 61)

Ada Apa dengan Munafik?

Munafik adalah istilah yang berasal dari kata nifaq. Secara bahasa (etimologi), Nifaq berarti salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. (Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (V/98) oleh Ibnul Atsiir)

Nifaq menurut syara’ (terminologi) adalah menampakkan keislaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain.

Apabila yang disebut adalah munafik maka yang dimaksud adalah kata munafiq yang berarti orang yang melakukan perbuatan nifaq.

Nifaq adalah penyakit hati yang berbahaya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Terj QS Al-Baqarah: 10)

Apa saja Jenisnya?

1. Nifaq I’tiqadi adalah nifaq dalam keyakinan dan merupakan nifaq besar (Nifaq Akbar), di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran.

Nifaq Akbar jenisnya ada empat macam, yaitu :
a.    Mendustakan Rasulullah SAW atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.
b.    Membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa,
c.     Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam,
d.    Tidak senang dengan kemenangan atau kebangkitan Islam.

2. Nifaq ‘Amali adalah nifaq perbuatan yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati (nifaq asghar).

Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: 
“Kesimpulannya, kemunafikan asghar semuanya kembali kepada berbedanya seseorang ketika sedang sendiri dan ketika terlihat (bersama) orang lain” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 747)

Inilah Perbedaannya
1.   Nifaq Akbar : menjadikan pelakunya keluar dari Islam, 
    Nifaq Asghar : tidak sampai mengeluarkan dari Islam.
2.   Nifaq Akbar : tidak mungkin bersatu dengan keimanan, 
    Nifaq Asghar : mungkin ada pada seorang yang beriman.
3.  Nifaq Akbar : pelakunya kekal di neraka, 
   Nifaq Asghar : pelakunya tidak kekal di neraka. (Lihat Kitabut Tauhid, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Waspadai Bahayanya!

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (terj QS An-Nisa: 145)

Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: 
“Sebagian orang mengira kemunafikan hanyalah ada di zaman Rasulullah SAW saja, tidak ada kemunafikan setelah zaman beliau. Ini adalah prasangka yang salah. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Kemunafikan pada zaman ini lebih dahsyat dari kemunafikan di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Mereka berkata: ‘Bagaimana (bisa demikian)?’ Beliau menjawab: ‘Orang-orang munafik di zaman Rasulullah SAW menyembunyikan kemunafikan mereka. Adapun sekarang, mereka (berani) menampakkan kemunafikan mereka’.”

Saudaraku sekalian . . .

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar kita berhati-hati dan menjauhi orang-orang munafik sebagaimana firman-Nya: 
“Mereka (orang-orang munafik) adalah musuh maka hati-hatilah dari mereka…” (terj QS Al-Munafiqun: 4)

Marilah kita Bersandar kepada Allah, meminta kemudahan, ketetapan hati, dan keistiqamahan untuk berjalan di atas apa yang Allah Ta’âlâ ridhai. Mari kita jaga keluarga, dan orang-orang yang diamanatkan urusannya di atas pundak kita dari murka dan azab Allah Ta’âlâ
Nas’alullah al-’afwa wal afiyah. Wallahu A’lam (and-lmj)

Selasa, 08 April 2014

Islam Bersatu : Harapan Yang Tidak Salah Kaprah

Saudaraku Kaum Muslimin, tak jarang kita mendengar respon negatif, ketika ada seorang muslim mencoba menasihati saudaranya sesama muslim yang masih melakukan hal-hal yang dilarang dalam Islam. Yang ternyata larangan itu dilakukan karena beberapa alasan, seperti : ketidak tahuan, kurangnya  pemahaman dan bahkan kesengajaan.

Respon yang paling populer diantaranya adalah :
"Hei! Jangan memecah belah, kan masih ada celah kebaikan yang bisa kita manfaatkan!"
"Kenapa sih harus menjelek-jelekkan orang lain atau kelompok lain? Jangan merasa yang paling benar!"
“Masih sama-sama Islam kan, kok gampang menyesat-sesatkan bahkan mengkafir-kafirkan”
Dan masih banyak beragam respon negatif lainnya

Dari sini bisa disimpulkan bahwa ternyata masih ada pemahaman yang cenderung salah kaprah tentang konsep persatuan kaum muslimin.

Ketika seseorang berkata "Janganlah kalian melakukan Maksiat!" - Apakah berarti orang itu sedang memecah belah antara muslim maksiat dengan muslim taat?

Ketika seseorang berkata "Janganlah kalian berbuat Bid'ah!" - Apakah berarti orang itu sedang memecah belah antara muslim yang berbuat bid'ah dan yang berbuat sunnah?

Ketika seseorang berkata "Janganlah kalian berbuat Syirik!" - Apakah berarti orang itu sedang memecah belah antara muslim yang berbuat Syirik dan yang bertauhid ?

Sama sekali tidak! orang itu bukan sedang memecah belah, dan justru orang itu sedang dalam usaha untuk menghilangkan sebab-sebab terjadinya perpecahan kaum muslimin.

Jadi jika ditanya, Bagaimana cara membuat kaum muslimin bersatu? Jawabannya adalah kita harus berusaha menghilangkan segala sebab yang dapat membuat kaum muslimin berpecah belah. Ternyata ada 3 hal yang dapat meyebabkan kaum muslimin berpecah belah yaitu : 1. Syirik,
2. Bid'ah, 3. Maksiat (menyelisihi syariat)

Marilah kita fahami, Persatuan kaum muslimin bukan berarti meniadakan saling menasehati, bukan berarti harus menghormati dan mendiamkan orang yang berbuat Syirik, Bid'ah dan Maksiat (menyelisihi syariat) dengan alasan adalah hal yang biasa dalam perbedaan pendapat.
Fahamilah, Persatuan kaum muslimin bukan berarti tidak mengingkari perkara-perkara yang Munkar dan menyimpang. Fahamilah Juga, Persatuan Kaum Muslimin haruslah di atas Tauhid bukan Syirik, harus di atas Sunnah bukan Bid'ah dan Persatuan Kaum Muslimin harus di atas Taat bukan Maksiat. Jika tidak demikian, lalu di atas apa kita akan bersatu jika tidak di atas Alqur'an dan Sunnah dan dengan pemahaman para Sahabat Rasul?

Kelompok Islam = Membuat Perpecahan ?

Lalu bagaimana dengan kelompok-kelompok Islam yang ada seperti sekarang ini? apakah itu tidak termasuk memecah belah?

Berkelompok-kelompok (berjama'ah) itu tidaklah mengapa, bahkan sangat dianjurkan menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok Islam yang jelas jalan perjuangannya, yang mempunyai tujuan dalam rangka menegakan dienul Islam maka bukanlah suatu bentuk perpecahan, justru itu bentuk komitmen tauhid dalam rangka mewujudkan Khilafah Islamiyah

Begitu juga dengan perbedaan pendapat para ulama, jika ada 3 pendapat para ulama dalam suatu perkara, maka kita diwajibkan memilih pendapat yang paling kuat diantara 3 pendapat tersebut, bukan membuat pendapat yang ke 4. Dengan catatan, Ulama yang dimaksud adalah ulama yang berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah bukan ulama sinetron atau ulama artis atau bahkan ulama Su’ (yang buruk).

Pahami juga, perbedaan pendapat yang dimaksud adalah pendapat yang syar'i, berbeda pendapat tidak masalah selama masih syar'i atau ada dasar dalilnya dan bukan urusan ushul dien (pokok dien Islam).

Sedangkan perkara Syirik dan Bid'ah bukanlah suatu pendapat, melainkan suatu bentuk penyimpangan. Jadi, tidak boleh kita artikan jika ada Ulama, Ustadz ataupun siapa saja yang berbuat Syirik dan Bid'ah adalah sebuah perbedaan pendapat yang kita harus biarkan atau hormati. Justru sebaliknya, itulah segala bentuk penyimpangan itu wajib kita ingkari.

Dari bahasan yang singkat ini dapat diambil kesimpulan bahwa jika ingin Kaum Muslimin bersatu, maka bersatulah di atas Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush shalih. Dan rangkullah kaum muslimin yang berpotensi menyimpang dengan berusaha menghilangkan segala perkara-perkara penyimpangan yang dapat memecah belah ummat (syirik, bid'ah & maksiat / meyelisihi syariat).

Allah 'azza wa jalla berfirman:

"Katakanlah (Muhammad)," Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah,dan aku tiada termasuk orang-orang musyrik." (TQS Yusuf : 108).

Istiqomah [mungkin] memang sulit, akan tetapi itu tidak menunjukkan bahwa istiqomah mustahil bagi orang-orang yang beriman. Oleh karenanya marilah kita berdo'a kepada Allah SWT agar diberikan ketetapan di atas Islam dan Sunnah Nabi-Nya, hidup dan wafat di atas keduanya, karena tidak ada kemuliaan bagi seorang muslim kecuali karena berpegang teguh kepada keduanya.

Dari 'Abdullah bin 'Umar ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Dijadikan kehinaan dan kerendahan atas orang-orang yang menyelisihi Sunnahku." (HR. Ahmad dalam Musnad-Nya, II/50, 92, Ibnu Abi Syaibah, Kitaabul Jihad, V/575, no. 98)

Berkata Imam Ibnu Qudamah rhm, "Dalam mengikuti Sunnah Rasulullah Muhammad SAW terdapat keberkahan dalam mengikuti syari'at, meraih keridhaan Allah SWT, meninggikan derajat, menenteramkan hati, memenangkan badan, menjadikan syaithan marah, dan berjalan di atas jalan yang lurus." (Dharuratul Ihtimam, hal. 43)

"Yaa muqallibal qulub, tsabit qalbi 'ala dinik." Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas Dien (milah, manhaj & syariat). -Mu (yang lurus). (nas-jbr)

Jumat, 07 Maret 2014

Sabar Dalam Ketaatan



Sabar adalah akhlaq yang bersifat kasbi (dapat dicari) yang bisa menjadi karakter seseorang. Sabar merupakan upaya untuk menahan diri dari keluh kesah hingga seseorang bisa menguasai dirinya dari rasa amarah, menahan lisannya dari mengadu, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang tidak layak dilakukan. Dengan kata lain, sabar adalah keteguhan hati dalam menerima hukum-hukum takdir dan syariat Allah SWT.

Sabar di sisi Alloh SWT memiliki kedudukan dan tingkatan mulia yang harus diraih penuh kesungguhan. Sahabat Jabir ra. meriwayatkan, bahwa Nabi SAW pernah ditanya tentang sabar. Beliau SAW menjawab: 

”Seandainya sabar itu adalah seorang laki-laki, pasti ia seorang laki-laki yang muda yang lagi dermawan” ( HR. Thabrani dari Ibnu Abbas)

Di dalam Al-Qur’an, kata sabar disebutkan sebanyak 82 tempat di dalam memuji dan dua tempat dalam rangka mencela. Alloh SWT telah memerintahkan dan memotivasi hambanya supaya senantiasa bersabar. 

“Dan mintalah (mengerjakan) sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. “ (Terj. QS. Al-Baqarah: 45)

Sabar Atas Ketaatan Kepada Alloh SWT

Alloh SWT berfirman: 

”Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-NYA. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Terj QS. Maryam: 65)

Menurut Ibnu Qayyim, “Kebahagiaan seorang hamba dan kesempurnaan nikmatnya tergantung pada lima perkara; 
(i) Pengetahuan tentang kenikmatan yang diharapkannya, 
(ii) kecintaannya pada kenikmatan tersebut, 
(iii) pengetahuan tentang cara untuk mendapatkannya, 
(iv) pengetahuan tentang hak dalam kenikmatan tersebut, dan 
(v) kesabaran atas semua itu. 

Alloh SWT berfirman : “Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan nasihat menasihati dalam menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Terj QS. Al-Ashr 1-3)

Tidak ada yang bisa istiqomah untuk senantiasaan taat kepada Alloh SWT, kecuali orang-orang yang dimudahkan-Nya. Karena jika tidak demikian, setiap orang akan sesumbar bahwa dirinya adalah yang paling taat kepada Alloh SWT.

Bentuk Kesabaran Dalam Menjalani Ketaatan Kepada Alloh SWT

Bentuk sabar dalam menjalankan kepada Alloh SWT sangat baanyak sekali, disini hanya akan dijelaskan yang mencakup 3 perkara pokok yaitu : 
(i) sabar dalam menjalankan lima rukun islam, 
(ii) sabar dalam peperangan dan 
(iii) sabar terhadap penguasa.

Sabar Dalam Menjalankan Lima Rukun Islam

Bersabar berwudhu di pagi hari yang sangat dingin, bersabar menegakkan sholat di tengah malam, serta senantiasa menjaga sholat lima waktu merupakan kesibukan yang mengagumkan seorang muslim sejati.

Dari Abu Hurairah, Rosululloh SAW bersabda, 
“Maukah kalian kuberi tahu amalan yang dengannya Alloh menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan mengangkat derajatmu?” Para sahabat menjawab, “Tentu, kami mau wahai Rosululloh  Beliau bersabda: “Sempurnakanlah wudhu ketika dalam kondisi yang tidak kamu sukai, memperbanyak langkah ke Masjid, menunggu shalat berikutnya, maka yang demikian itu adalah ribath (berjaga diperbatasan musuh, maka yang demikian itu adalah ribath.” (HR. Bukhori)

Contoh lain adalah ketika berpuasa (shiyam) di siang hari yang terik. Sabar dalam mengerjakan rukun islam yang kelima, menunaikan haji ke Baitulloh. Mengerjakan perintah Alloh SWT dan menjauhi larangan-Nya termasuk dari jenis sabar dalam ketaatan kepada Alloh SWT, sehingga barang siapa mengerjakan semua itu dalam rangka mencari keridhaan Alloh SWT, maka dia akan mendapatkan balasan yang baik di sisi Alloh SWT.

Sabar Dalam Peperangan

Sabar dalam peperangan merupakan sebab terbesar untuk mendapatkan kemenangan dari musuh yang dihadapi. Sebagaimana kemenangan yang telah diraih dalam perang Badar Al-Kubra. Saat itu jumlah pasukan kafir sebanyak 1300 orang lengkap dengan senjata perang. Sedangkan jumlah tentara kaum muslimin kurang dari 300 orang. Namun berkat kesabaran tentara kaum muslimin di medan perang tersebut, maka Alloh memberikan kemenangan pada mereka atas orang-orang kafir.

Sabar dan perang juga merupakan pembuktian keinginan seorang muslim untuk dimasukkan ke dalam surga, sebagaimana firman-Nya : 
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad (berperang) di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya” (Terj. QS Ali Imran [3]: 142-143).  

Sabar Terhadap  Penguasa

Tidak mungkin kaum musimin akan hidup dalam naungan keamanan yang menyejukkan dan hanyut dalam kebaikan jika mereka tidak mempunyai pemimpin yang selalu mengurusi urusannya, memegang kendalinya dan berbuat adil di negerinya. Rosululloh SAW bersabda: 
“Barangsiapa yang melihat penguasanya tidak dalam yang di sukai, hendaknya dia bersabar. Karena sesungguhnya, siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka apabila dia meninggal, dia meninggal secara jahiliyah”. (Hadits Ibnu Abbas ra, dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya)

Begitulah aqidah yang benar terhadap penguasa muslim, meskipun pada dirinya di kemudian hari terdapat sifat fasiq lagi zhalim. Rasulullah SAW telah mewanti-wanti kepada kaum Muslimin agar tetap taat dan sabar terhadap hal yang tidak disukai dari penguasanya. Tetapi jangan lupakan hadits yang penting berikut ini

Rasulullah SAW memanggil kami, lalu membai’at kami. Maka di antara bai’atnya  adalah agar kami berbai’at untuk mendengar dan taat di saat  kami suka ataupun tidak suka, di saat dalam kemudahan  ataupun dalam kesusahaan, dan di saat kami diperlakukan secara tidak adil. Dan agar kami tidak mencabut urusan (kepemimpinan dari orang yang berhak). Beliau berkata: kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki dalil padanya dari Allah. (HR. Imam Muslim dalam shahihnya 42-1709. Lihat Shahihu Muslim bisyarhi An-Nawawi 12/2315 cet Darul Aqidah dan dalam Shahih Al-Bukhari, Kitabul Fitan, hadits no 7055, 7056 13/8-9 Cet. Daaru Mishr Liththiba’ah).

Bahkan menurunkan dan keluar dari ketaatan terhadap penguasa yang melakukan kekufuran yang nyata ini merupakan kewajiban yang telah dinyatakan oleh para ulama pendahulu.  Pendapat tersebut antara lain:
1.   Ibnu Hajar selain menyatakan wajibnya memberontak, ia juga berkata dalam Fathul Bari : “Ringkasnya menurut ijma` bahwasanya penguasa dimakzulkan (dilengserkan) karena melakukan kekafiran, maka wajib atas setiap muslim ikut andil dalam hal itu, maka barangsiapa yang kuat melakukannya meraih pahala dan barangsiapa yang bermudahanah (cari muka dan menjilat) mendapat dosa, dan barangsiapa yang lemah wajib berhijrah dari negeri itu.” (Fathul Bari 13/176 dan selebihnya bisa dibaca pada 13/8-13)

2.  Imam An-Nawawi mengatakan, “Qadhi Iyadh berkata, ‘Para ulama bersepakat bahwa kepemimpinan tidak diberikan kepada orang kafir. Namun, kalau ia tiba-tiba menjadi kafir, maka harus dilengserkan.’ Lebih lanjut Qadhi Iyadh berkata, ‘Begitu pula jika ia meninggalkan shalat dan mengajak orang untuk mengikutinya’ “. (Syarh Shahîh Muslim: XII/229)

Kesimpulan

Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau identik dengan keterdzoliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Oleh karena itulah, marilah secara bersama kita berusaha untuk menggapai sikap ini. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha Sabar dalam Menaaati Alloh SWT.Pemilik kesabaran adalah orang yang tangguh tak terkalahkan, pantang mundur dan tak terjatuhkan. Dia selalu meraup manfaat dan kebaikan bahkan pahala tanpa batas. Wallohu A’lam bish showwab (4bu w!ld4-bwi)

Maksiat Berkedok Valentine’s Day



Sebagaimana kita ketahui, setiap 14 Februari identik dengan perayaan Valentine’s day yang oleh sebagian besar muda-mudi menyebutnya sebagai Hari Kasih Sayang. Berbagai cara digelar sebagai bentuk ungkapan kasih sayang kepada orang-orang yang mereka sayangi.  Para muda-mudi itu, mengungkapkan kasih sayang yang diwujudkan dengan memberikan coklat, pernak-pernik berupa pita, bantal berbentuk hati, boneka beruang, atau rangkaian bunga yang didominasi dua warna: pink dan biru muda. Bahkan di bulan Februari kondom terjual laris-manis. Di sebuah minimarket Bandung, kondom dan coklat menjadi menjadi bingkisan yang bebas dijual (muslimdaily.net,). Betapa ini peluang lebar free sex oleh kalangan muda-mudi. Sungguh mengerikan!


Beginilah Sejarahnya

Mari kita tilik sejarahnya terkait apa dan siapa Valentine sehingga begitu dikultuskan pada perayaan ini. Tidak ada sumber ilmiah yang jelas, siapakah sesungguhnya yang bernama Valentine. Beragam kisah dan semua hanyalah dongeng fiktif sarat muatan penyesatan. Setidaknya ada 3 dongeng yang umum tentang siapa Valentine.

Pertama, St. Valentine adalah seorang pemuda bernama Valentino yang mati pada 14 Februari 269 M karena eksekusi oleh Raja Romawi, Claudius II (265-270) akibat menentang ketetapan raja, memimpin gerakan yang menolak wajib militer dan menikahkan pasangan muda-mudi. 

Kedua, Valentine adalah seorang pastor di Roma yang berani menentang Raja Claudius II dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan menolak menyembah dewa-dewa Romawi. Ia kemudian mati karena dibunuh dan oleh gereja dianggap sebagai orang suci. 

Ketiga, seorang yang meninggal dan dianggap sebagai martir/pahlawan, terjadi di Afrika di sebuah provinsi Romawi. Meninggal pada pertengahan abad ke-3 Masehi. Dia juga bernama Valentine.

Adapun Cupid, ikon valentine, si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod, Salah Satu Tuhan Orang Romawi. Ikon ini berjuluk Tuhan Cinta, karena ia berparas rupawan sehingga banyak dipuja dan diburu wanita. Bahkan ia pun nekad berzina dengan ibunya sendiri, Lupercus!

Jangan Tertipu Wahai Pemuda Islam!

Di Indonesia, Valentine’s Day justru disebut ‘Hari Kasih Sayang’, yang disimbolkan dengan kata ‘Love’. Padahal kalau kita mau jeli, kata ‘kasih sayang’ dalam bahasa inggris bukan ‘love’ tetapi ‘Affection’. Ini adalah penyesatan nyata. Makna ‘love’ dalam Valday sebenarnya adalah sebagaimana sejarah Perayaan Lupercalia dengan ritual seks bebas.

Sungguh tidak salah, yang dikatakan Samuel Zweimer dalam konferensi gereja di Quds (1935): 

"Misi utama kita (Kristen) bukan menghancurkan kaum Muslim. Sebagai seorang Kristen tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsu”.

Maka, Maha Benar Allah Azza wa Jalla, yang berfirman,

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Terjemah QS Al-An’am (6): 116).

Kenapa dilarang?

Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari Valentine setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual orang-orang kafir. Selanjutnya kita akan melihat berbagai kerusakan yang ada di hari Valentine.

1. Dosa Meniru-niru Orang Kafir

Dari Abu Sa‟id Al Khudri, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, 

“Kalian pasti akan mengikuti langkah-langkah orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta, sampai walaupun mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Apakah yang dimaksud adalah Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (Muttafaqun ‘Alaihi)

2. Dikumpulkan dengan yang dipujanya di Hari Kiamat

Bandingkan, apabila yang dicintai dan diagungkan adalah Valentine, seorang kafir yang laknat Allah selalu menyertainya. Betapa penyesalan yang sangat besar. 

Anas bin Malik mengatakan, "Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).” Anas pun mengatakan, Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

3. Terjerumus Dalam Kesyirikan

Ucapan ”Be My Valentine” menurut Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, jika meminta seseorang menjadi “be my Valentine”, hal itu berarti memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”, inilah perbuatan syirik yang harus dihindari.

4. Terbukanya Kesempatan Zina

Dalam sejarah terkait Valentine’s Day, ada perayaan Lupercalia dengan Ritual Lotere Pasangan, yaitu para wanita muda memasukkan nama mereka dalam sebuah bejana kemudian para pria mengambil satu nama dalam bejana tersebut untuk dijadikan pasangan tanpa status nikah selama setahun penuh. Dan kenyataannya tradisi zina (seks bebas) inilah yang berkembang saat ini, termasuk di Indonesia.

5. Meniru Perbuatan Setan

Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat untuk kepentingan dakwah dan jihad meninggikan kalimatullah. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).

Kesimpulan

Menilik pada catatan sejarah valentine day tidak ada yang pasti, namun satu point penting yang bisa diambil, bahwa perayaan valentine day memiliki hubungan erat dengan kebiasaan orang kafir dan musyrik. Sehingga tak pantas seorang muslim, baik laki-laki maupun perempuan, ikut merayakannya dan bersenang-senang dengannya. Dan siapa yang nekad merayakannya, ia bisa terjerumus ke dalam kekufuran sebagaimana keterangan hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, ia bagian dari mereka.” Wallahu A’lam (bep-jbr)