Minggu, 28 Juli 2013

AMBILLAH PELAJARAN DALAM KISAH-KISAH AL-QUR'AN



Pembaca yang dirahmati Alloh, Romadhon adalah bulan Mulia yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai pedoman hidup yang dijamin kebenarannya. Al-Qur’an adalah pedoman yang harus kita pegang teguh dengan mengimaninya dan mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara.

Sesungguhnya, Al-Qur’an memiliki keagungan, keajaiban, keindahan dan pesona yang menakjubkan. Inilah yang juga diakui bangsa jin ketika pertama kali mendengar lantunan Al-Qur’an yang dibacakan Rosululloh SAW, secara spontan mereka berucap, “sesungguhnya, kami telah mendengar Al-Qur’an sebagai sesuatu yang menakjubkan” [QS Al-Jin:1]

Al-Qur’an adalah tali Alloh yang kokoh, dengan perantaraannya Dia memberi kita petunjuk dan melindungi hamba yang dipilihnya. Saat ini --pada saat kita senantiasa terkepung dengan beragam musibah dan bencana--tiada lagi Rosululoh yang hadir di tengah-tengah kita untuk memberi petunjuk dan nasehatnya. Namun, di depan kita terdapat Al-Qur’an, Kitabulloh yang menjelaskan segalanya kepada kita. Firman-Nya:

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab [Al-Qur’an] untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” [QS.An-Nahl:89].

Kitabulloh ini, sebagaimana yang disifati Rosululloh SAW seperti air hujan deras yang turun pada saat bumi telah kering dan mati, ketika manusia tengah dahaga dan sangat membutuhkannya. Dengan hujan itu, tanah yang gersang bisa tumbuh kembali dengan subur dan manusia bersuka cita dengannya. [QS Al Hadid:17]

Maka, sudah sepatutnya bagi setiap muslim untuk selalu memperhatikan dan men-tadabburi, membaca dan menghayatinya, bukan sekedar mendengarkan atau membacanya di mushaf semata.

Permisalan yang pasti sangat berharga

Sesungguhnya, Al-Qur’an banyak menyebutkan perumpamaan tentang kejadian sesuatu. Semuanya dimaksudkan agar setiap manusia mau mengambil pelajaran darinya. Kisah-kisah umat terdahulu bukan merupakan dongeng pengantar tidur, cerita bohong, atau sekedar rekreasi spiritual yang setelah membacanya manusia kembali kepada habitatnya masing-masing, tanpa pernah berfikir sedikitpun bahwa ternyata kisah tersebut dimaksudkan untuk dirinya. Ketika Alloh menceritakan kisah umat Nabi Nuh as yang ditenggelamkan banjir bah maka yang diinginkan Alloh adalah agar umat setelahnya tidak berbuat sebagaimana yang mereka perbuat. Alloh juga membuat permisalan tentang Alam Semesta, tumbuh-tumbuhan dan binatang, gunung dan laut bahkan binatang yang amat kecil; seperti semut dan nyamuk.

Masih Berlaku Untuk Kita

Al-Qur’an baru akan menjadi petunjuk dan pedoman bagi setiap muslim manakala dia meyakini bahwa kisah dan perumpamaan yang Alloh berikan ditujukan untuk dirinya, bukan hanya untuk kaum yang hidup pada masa lalu. Inilah yang difahami oleh Umar ra sebagaimana khutbahnya di depan para sahabat, “kaum-kaum itu telah berlalu dan tidak ada lagi yang dimaksudkan oleh Kitabulloh itu selain diri kalian

Alloh menjelaskan masih berlakunya Kisah Fir’aun dan sekutunya sebagai pelajaran untuk generasi sekarang, sebagaimana firman-Nya:

Dan (juga) Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. [QS Al Ankabut:39-43]

Perumpamaan diatas menunjukkan kondisi umat Islam  hari ini, yang masih diselimuti kelemahan, kehinaan dan kekalahan. Sementara kondisi musuh-musuh Islam berada di puncak kebiadabannya dalam menodai dan menindas kehormatan kaum muslimin. Hari ini keadaan umat Islam benar-benar mirip dengan kondisi Bani Isroil ketika berada dalam kediktatoran Rezim Fir’aun. Tak seorang pun—bahkan, tak satu wilayahpun—yang mampu tegak dan bangkit menantang kebiadaban Fir’aun. Semuanya takluk dibawah kekuasaan dan undang-undangnya. Bagi yang berani menantang,  maka dia telah siap menjalani hidupnya dalam gelapnya penjara, liciknya tipudaya dan kebiadaban siksaannya.

Apa yang Sesuai Saat Ini?

Hubungan perumpamaan dengan realita terkini benar-benar dapat tergambar jelas dan terang, bagaikan terangnya matahari ketika tepat di atas ubun-ubun kita. Jika seluruh manusia hari ini banyak berbicara kekejaman Amerika dan aliansi Negara kafir dan munafik pendukungnya dalam menindas umat Islam di berbagai Negara maka benarlah Amerika telah menjelma sebagai Fir’aun abad ini. Sedangkan kaum muslimin tak jauh beda dengan kondisi Bani Isroil saat hidup dalam penindasannya.

Bisa disimpulkan bahwa semua bentuk kebiadaban dan kejahatan yang dilakukan Fir’aun Mesir juga menjadi karakter Amerika dan sekutunya; bagaikan pinang dibelah dua!. Sesungguhnya, adalah sunnatulloh bahwa apa yang menimpa dan terjadi masa lalu juga terjadi sekarang dan juga pada waktu yang akan datang. Peristiwa lampau itu bisa hadir kembali dengan nama, tempat, tokoh, waktu dan karakter berbeda, namun memiliki makna dan kandungan yang sama. Tak jarang satu sama lainnya saling mendukung dan menguatkan. Hanya orang-orang yang selalu mentadabburinya saja yang bisa mengambil pelajaran. “Sungguh, benar-benar dalam kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki mata hati”. [QS. Yusuf:111]. Wallohu’alam bish showwab. dawlam

Tetap Semangat di Akhir Ramadhan

Sebagian kaum muslimin di akhir Ramadhan malah tersibukkan dengan hal-hal dunia. Dirinya lebih memikirkan pulang mudik, baju baru dan silaturahmi kepada kerabat. Contoh dari suri tauladan kita tidaklah demikian. Di akhir Ramadhan, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih tersibukkan dengan ibadah, apalagi shalat malam.

Raih Lailatul Qadar
Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar (Zaadul Masiir, 9/191).
Kapan Lailatul Qadar Terjadi?
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)
Tidak Hanya Sibuk Mencari Tanda
Sebagian orang sibuk mencari tanda kapan lailatul qadar terjadi. Namun sebenarnya tanda tersebut tidak perlu dicari. Tugas kita di akhir Ramadhan, pokoknya terus perbanyak ibadah. Karena kalau sibuk mencari tanda malam tersebut, kita malah tidak akan memperbanyak ibadah. Walaupun memang ada tanda-tanda tertentu kala itu.  Tanda tersebut di antaranya:
Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18/361, shahih)
Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak dirasakan pada hari-hari yang lain.
Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.
Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tanpa sinar yang menyorot. Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim no. 762)
Jika Engkau Dapati Lailatul Qadar
Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6/171, shahih)
Lebih Giat Ibadah di Akhir Ramadhan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan.
‘Aisyah mengatakan,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)
Menghidupkan Malam Penuh Kemuliaan
Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam. Bahkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat yang dulu mengatakan, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dan shalat Shubuh di malam qadar, ia berarti telah dinilai menghidupkan malam tersebut”. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 329). Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (‘Aunul Ma’bud, 4/176). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901).
Jika seorang meraih lailatul qadar dengan i’tikaf, itu lebih bagus. Namun i’tikaf bukanlah syarat untuk dapati malam kemuliaan tersebut. Begitu pula bukanlah syarat mesti di masjid untuk dapati lailatul qadar. Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 341).
Semoga Allah beri taufik kepada kita sekalian untuk menjadi hamba yang mendapatkan malam penuh kemuliaan, lailatul qadar. Wallahu waliyyut taufiq

Rabu, 10 Juli 2013

ROMADHON ADALAH BULAN JIHAD



"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)


Refleksi Ramadhan

Minggu ini seluruh umat Islam dipastikan sudah menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Hampir seluruh umat Islam yang beriman menjalankan ibadah di bulan penuh berkah ini.

Namun biasanya kita juga melihat ada yang kontras ketika Ramadhan tiba. Masjid-masjid penuh. Bukan untuk beribadah membaca al-Quran, tetapi banyak umat Islam yang berleha-leha, tidur-tiduran menghabiskan waktu siang mereka. Produktivitas kerja menurun. Nuansa bermalas-malasan terlihat. Seakan-akan puasa menjadi legitimasi sebagian dari kita untuk bermalas-malasan dan mengurangi aktivitas sepanjang menjalankan ibadah puasa.

Di bulan Ramadhan Rasulullah dan para sahabat tidak bermalas-malasan, atau tidur-tiduran, mereka berjihad untuk meninggikan kalimat Allah SWT. Ramadhan memuat makna-makna iman pada jiwa manusia, mengilhami mereka arti agama yang hanif, dan memantapkan kepribadian Muslim yang hakiki.

Kesempatan Ramadhan yang di dalamnya dijanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar (pembebasan dari api neraka), sesungguhnya momentum ideal menemukan solusi banyak hal bagi umat. Puasa yang benar dapat membangunkan hati Mukmin yang ‘tertidur’ sehingga merasakan muraqabatullah (perasaan diawasi Allah).

Makna Syar’i Jihad

Dalam sejarah Nabi Muhammad SAW, Ramadhan menjadi bulan jihad. Banyak peristiwa bersejarah yang mencatat bahwa Ramadhan menjadi bulan jihad umat Islam.

Makna syar’i jihad adalah : Upaya mengerahkan segenap kemampuan dalam berperang di jalan Allah secara langsung, atau membantunya dengan harta, dengan (memberikan) pendapat/pandangan, dengan banyaknya orang maupun harta benda, ataupun yang semisalnya.(Ibn Abidin, Radd al-Mukhtâr, III/336)

Upaya mengerahkan segenap jerih payah dalam memerangi kaum kafir.(Lihat: Ibn Hajar al-Ashqalani, Fath al-Bari Syarh Shahîh al-Bukhâri; Asy-Syaukani, Nayl al-Awthâr; As-Zarqani, Syarh az-Zarqani)

“Al-Jihad adalah memerangi orang-orang kafir, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh mencurahkan kekuatan dan kemampuan, baik berupa perkataan maupun perbuatan” [An-Nihayah fii Gharibil-Hadits oleh Ibnu-Atsir 1/261:Maktabah Al-Misykah].

Jihad Di Bulan Ramadhan

Tinta emas Sejarah telah mencatat bahwa pada bulan suci Ramadhan penuh dengan kisah kesuksesan dan kemenangan besar yang mampu diraih umat Islam. Ini sekaligus membuktikan bahwa Ramadhan bukanah bulan malas dan lemah, akan tapi merupakan bulan kuat, bulan jihad, dan bulan kemenangan. Berikut beberapa rentetan peperangan sekaligus kemenangan yang pernah terjadi pada bulan Ramadhan:

Ramadhan 2H

Perang Badar : Ibnu Hisyam menyatakan perang ini merupakan kemenangan pertama yang menentukan kedudukan umat Islam dalam menghadapi kekuatan kemusyrikan dan kebatilan. Perang ini terjadi pada pagi Jumat, 17 Ramadhan 2H di Badar. Kemenangan lebih kurang 300 orang tentera Islam di bawah pimpinan Rasulullah ini mengalahkan lebih kurang 1000 orang tentera musyrikin Mekah.

Ramadhan 5H

Perang Khandaq : Persiapan dilakukan dengan mengali parit (khandaq) sekeliling kota Madinah. Strategi ini ini tidak pernah digunakan oleh bangsa Arab. Hal ini diusulkan Salman Al-Farisy. Peperangan ini terjadi pada bulan Syawal dan berakhir pada bulan Dzulkaidah setelah pasukan muslimin berjaya memecah belah pasukan musuh.

Ramadhan 8 H

Fathul Makkah : Rasulullah SAW keluar dari Madinah pada 10 Ramadhan dalam keadaan berpuasa. Mekah jatuh ke tangan kaum muslimin tanpa pertumpahan darah. Penaklukan itu terjadi pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

Ramadhan 9 H

Perang Tabuk : Pada tahun 629 M Rasulullah Saw. memutuskan untuk melakukan aksi preventif,yakni ekspedisi ke wilayah tabuk yang berbatasan dengan romawi. Setelah sampai di Tabuk, umat Islam tidak menemukan pasukan Bizantium ataupun sekutunya.

Ramadhan 10 H

Ekspedisi Yaman : Rasulullah Saw mengutus pasukan dibawah pimpinan Saidina Ali Ra, ke Yaman dengan membawa surat Nabi. Satu suku yang berpengaruh di Yaman langsung menerima Islam dan masuk Islam pada hari itu juga. Mereka sholat berjamaah bersama Imam Ali ra. pada hari itu.

Ramadhan 92 H

Pembebasan Spanyol : Panglima tentera Islam, Tariq bin Ziyad memimpin 12.000 tentera Islam berhadapan dengan tentera spanyol berjumlah 90.000 yang diketuai sendiri oleh Raja Frederick. Pada peperangan ini, untuk menambah semangat pasukannya, Tariq bin Ziyad membakarkan kapal- kapal perang mereka sebelum bertempur dengan tentera Raja Frederick. Beliau berkata, ”Sesungguhnya, syurga Allah terbentang luas di hadapan kita, dan dibelakang kita terbentangnya laut. Kamu semua hanya ada dua pilihan, apakah mati tenggelam , atau mati syahid.”

Ramadhan 584 H

Pembebasan Palestina : Panglima tentera Islam, Salahuddin Al-Ayyubi mendapat kemenangan besar atas tentera Salib. Tentera Islam menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh tentera Salib. Ketika bulan Ramadhan, penasihat-penasihat Salahuddin menyarankan agar dia istirahat kerana risau ajalnya tiba. Tetapi Salahuddin menjawab “Umur itu pendek dan ajal itu sentiasa mengancam”. Kemudian tentera Islam yang dipimpinnya terus berperang dan berjaya merampas Benteng Shafad yang kuat. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan.

Ramadhan 658 H

Perang Ain Jalut : Saat tentera tartar memasuki Baghdad, mereka membunuh 1.8 juta kaum Muslimin. Musibah ini disambut oleh Saifudin Qutuz, pemerintah Mesir ketika itu dengan mengumpulkan semua kekuatan kaum muslimin untuk meghancurkan tentera Tartar dan bertemu dengan mereka pada Jumat, 6 September 1260 M di Ain Jalut. Peperangan ini turut disertai oleh isteri Sultan Saifudin Qutuz, Jullanar yang akhirnya syahid di medan pertempuran.

Ramadhan adalah sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat. Ramadhan satu bulan penuh, Muslim di-training oleh SuperTrainer-nya, yaitu Allah SWT, Dzat yang Maha segala-galanya. Tentu hasilnya akan juga luar biasa, bila itu dilakukan dengan penuh keseriusan dan mendamba ridha Allah.

Perlu bagi umat untuk kembali merenungkan ungkapan terakhir dari surat al-Baqarah:183 adalah la’allakum tattaqun yang hendaknya dimaknai agar dapat merealisasikan nilai-nilai muraqabatullah, ketaatan, dan kasih sayang secara terus-menerus, tidak hanya di saat bulan Ramadhan.

Sabtu, 06 Juli 2013

NAHI MUNKAR DALAMTIMBANGAN SYARIAT ISLAM


MENYOROT AKSI SWEEPING TEMPAT MAKSIAT DI BULAN ROMADHON

Menjelang Ramadhan Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol Burhanuddin Andi berjanji akan menindak tegas organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang melakukan razia (nahi mungkar) atau ‘sweeping’ di bulan Ramadhan 1434 Hijriyah. (indonesiamedia.com 2/07/13). Pernyataan ini berkaitan dengan akan datangnya bulan Ramadhan 1434 H yang biasanya diiringi dengan aksi sweeping tempat maksiat oleh beberapa ormas Islam.

Para pembaca yang dirahmati Allah,

Kalau dicermati lebih dalam, tindakan sweeping atau Nahi Mungkar terhadap tempat-tempat maksiat yang dilakukan oleh berbagai ormas islam ini sebenarnya adalah bentuk semangat umat islam untuk meningkatkan ketaqwaan sebagai tujuan puasa Ramadhan sekaligus kekecewaan terhadap aparat pemerintah yang justru banyak melegalkan kemaksiatan tersebut

Hukum Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Amar ma'ruf nahi mungkar sebagai satu kewajiban atas umat Islam berdasarkan Firman Allah

...“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( terj QS At Taubah :71 )

Imam al-Qurthuby menafsirkan: “Maka Allah jadikan amar ma’ruf nahi munkar sebagai pembeda antara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang munafik, hal itu menunjukkan bahwa sifat yang paling khusus bagi seorang mu’min adalah amar ma’ruf nahi munkar dan puncaknya adalah mengajak kepada islam dan berjihad demi menegakkannya”. Kemudian bagaimanakah derajat kewajibannya? Apakah fardhu 'ain ataukah fardhu kifayah? Para Ulama memandang kewajiban tersebut adalah fardhu 'Ain. Ini merupakan pendapat Ibnu Katsir, Az Zujaaj, Ibnu Hazm. Mereka berhujjah dengan dalil-dalil syar'i : 1. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

  وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung". [Ali Imran:104]

Mereka mengatakan bahwa kata مِنْ dalam ayat مِنْكُمْ untuk penjelas dan bukan untuk menunjukkan sebagian. Sehingga makna ayat, jadilah kalian semua umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْ رِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُونَ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik". [Ali Imran :110]

Tugas penting ini sangat luas jangkauannya, baik zaman atau tempat. Meliputi seluruh umat dan bangsa dan terus bergerak dengan jihad dan penyampaian ke seluruh belahan dunia. Tugas ini telah diemban umat Islam sejak masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sampai sekarang hingga hari kiamat nanti.

Akan tetapi karena pemerintahan negeri ini tidak menggunakan syariat islam sebagai pedoman hukum, menyebabkan tidak ada standar yang jelas bagi pemerintah untuk menilai hukum suatu perbuatan , apakah perbuatan tersebut termasuk kebaikan atau kemungkaran. Sehingga banyak terlihat kasus kemungkaran menurut Quran dan Sunnah malah justru dilindungi oleh pemerintah, semisal :

a. Pelaksanaan Acara Kesyirikan Nasional,yaitu Petik Laut di Puger Jember (jtvjember.com) yang justru bertentangan dengan QS Al Baqoroh 22
b. Legalisasi Khomer / minuman keras untuk Hotel, klab malam, restoran, bar dan toko-toko berijin sebagaimana di dalam Peraturan no 4/2009 tentang miras, padahal hal itu bertentangan dengan QS Al Maidah 90-91.
c. Legalisasi Riba / Bunga Kredit seperti dalam UU no3 tahun 2004 tentang Perbankan, yang bertentangan dengan QS Al Baqoroh 278
d. Legalisasi tempat prostitusi seperti Gang Dolly di Surabaya, Perkampungan Sunan Kuning di Semarang, Padang Galak di Denpasar, Solong di Samarinda dan di tempat-tempat lain, bahkan menganggapnya sebagai salah satu sumber pendapatan daerah, padahal perzinahan bertentangan dengan QS Al Isro’ 32.

Apabila melihat berbagai fakta kemungkaran yang jelas ada seperti di atas, maka sudah selayaknya bila umat Islam ini untuk segera bergerak untuk melaksanakan kewajiban Nahi Mungkar, terlebih setelah melihat pihak pemerintah yang tidak dapat diandalkan karena keberpihakannya terhadap kemungkaran-kemungkaran yang ada. Dan sungguh hinalah kita apabila meninggalkan kewajiban tersebut. Padahal Allah akan menurunkan hukuman kepada manusia yang meninggalkan kewajiban Nahi Mungkar tersebut, di antaranya :

a. Tersebarnya kerusakan di dalam kehidupan bermasyarakat.(HR Imam Bukhori ).
b. Paceklik dan hilangnya berkah pada rejeki kita ( QS Al A’rof 96)
c. Turunnya berbagai musibah (QS Al Anfal 25)
d. Merupakan ciri selemah-lemahnya iman ( HR Muslim dalam Hadist Arbain no.34)

Oleh karena itu, marilah kita semua beriltizam untuk selalu ikut melaksanakan kewajiban Nahi Mungkar ini sebagai bukti ketakwaan kita kepada Allah swt dan terus berusaha untuk mewujudkan Khilafah Islamiyah ‘ala min nubuwwah yang menjadikan Al Quran dan Sunnah sebagai pilar sumber hukum, karena tidak ada kemuliaan di luar dua pilar tersebut. (jatjember)